Minggu, 30 Oktober 2016

melatih siswa agar bertanggung jawab

melatih siswa agar bertanggung jawab

murid-murid membutuhkan peraturan dalam kehidupan ini dan itulah bagian dari tugas kita untuk membantu mereka dengan cara memberi batasan-batasan. batasan membuat mereka merasa aman. saat menentukan batasan, sebenarnya anda sedang mengatakan pada mereka bahwa mereka tidak boleh mengambil resiko untuk masuk kedalam air terlalu dalam. murid-murid sering tampak tidak bertanggung jawab, jadi kita harus pelan-pelan memberitahu mereka bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya. berikut ini adalah beberapa strategi untuk membantu mereka agar dapat memikul tanngung jawab dengan menetapkan batasan-batasan dengan konsekuensi yang jelas.
  • membentuk perilaku dengan kebiasaan
disini saya ingin menekankan tentang perlunya rutinitas dan ini berlaku untuk anda maupun murid-murid anda. Anak sekolah adalah makhluk yang prilakunya dapat terbentuk karenakebiasaan dan bekerja dengan rapi jika mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Di kelas saya, sudah menjadi kebiasaan ketika memasuki ruang kelas siswa akan duduk ketika namanya diabsen. Dilain sisi, mungkin ada guru yang membiarkan murid-muridnya masuk kelas dengan berdesak-desakkan, namun demikian mereka tetap tahu apa yang harus mereka lakukan, PR, pekerjaan harian dikelas,dan pelajaran berstuktur tertentu dapat di jadikan rutinitas. Dengan membiasakan diri dengan rutinitas, anda akan punya waktu lebih banyak mengajar dengan lebih baik dari pada menghabiskan waktu untuk memberikan penjelasan yang tidak penting.
  • Buku catatan standar
            saya menyuruh semua siswa saya untuk membeli sebuah binder besar dengan tiga ring dan melarang mereka membeli buku-buku tebal yang terdapat dua lubang sisinya dengan ukuran tidak standar. Biasanya kertas yang kecil sulit untuk disusun karena sering jatuh dibawah meja. Sementara itu modul dan kertas kerja yang dibagikan guru kebanyakan ukuran standar 8,5 x 11 inci sehingga siswatidak bisa menyimpannya diantara buku mereka karena tidak pas. Akhirnya mereka hanya melipatnya kemudian tidak pernah dilihat lagi atau bahkan hilang.
  • Latihan Singkat Sebelum Pelajaran Atau Pemanasan

            Selama berabad-abad para guru telah menerapkan latihan “kerjakan Sekarang” yaitu latihan singkat yang harus langsung dikerjakan siswa setelah mereka masuk kedalam kelas.latihan ini berguna untuk menciptakan suasana yang kondusif sejak mereka masuk kelas. Sebaiknya latihan itu terdiri atas soal yang relatif mudah dan hanya membutuhkan  waktu beberapa menit untuk mengerjakan. (untuk siswa yang lebih besar, latihan ini seperti ini juga dapat dikatakan sebagai “pemanasan”.)
            Salah satu contoh dari kegiatan ini adalah menulis kata-kata mutiara dipapan tulis, seperti “anda hanya boleh menundukkan pandangan terhadap seseorang pada saat anda menolongnya.” Semua siswa harus menyalin tulisan itu dan menulis artinya serta menjelaskan bagaimana kaitan dengan diri mereka. (untuk itu mereka tidak harus menggunakan kertas baru setiap saat melainkan cukup menggunakan kertas tugas terdahulu  jika masih ada sisa ruang kosong sehingga mereka hanya perlu membubuhkan tanggal yang baru). Setelah mereka menyelesaikan tugas tersebut, bahaslah beberapa hasil pekerjaan sisa bersama seluruh kelas selama beberapa menit. Hasilnya, dalam lima menit tadi, seluruh siswa telah siap di tempat duduknya masing-masing, buku catatan telah terbuka, dan pulpen pun siap digunakan. Cukup cerdas, bukan?
  • Maksud Dari Tujuan

            Saya juga punya kebiasaan menuliskan setiap tujuan pembelajaran di papan tulis. Hal ini berguna untuk memfokuskan siswa, maksud dari apa yang anda ajarkan. Biasanya setelah murid-murid saya masuk kedalam kelas, secara otomatis mereka akan melihat ke papan tulis untuk mendapati latihan pemanasan dan tujuan pembelajaran yang mereka tulis dalam buku catatan mereka. Mereka sudah tahu apa yang harus mereka lakukan hari itu dan itu semua merupakan rutinitas yang telah di biasakan. Setelah itu merekaterbiasa mencari PR di papan tulis. Mereka pernah protes kepada saya karena tidak menemukan tujuan pembelajaran dipapan tulis!
  • Mengakhiri Pelajaran

            Berilah sentuhan akhir kegiatan belajar mengajar anda dengan kegiatan penutup. Mungkin anda dapat bertanya tentang apa yang paling mereka suka, apa yang mereka dapat dari paelajaran tadi, apa yang tidak mereka suka, atau komentar lain berhubungan dengan pelajaran saat itu dalam hal ini anda tidak perlu mengemasnya menjadi kuis informal melainkan hanya sebagai kegiatan diskusi tentang apa yang diharapkan dapat tercapai dari kegiatan belajar saat itu.
            Saya selalu mengatakan pada siswa-siwa tentang pendapat saya terhadap bagaimana pelajaran tadi  berlangsung akan memonopoli pasar hanya karena bosan. Jika siswa tidak responsif dan tidak memerhatikan pelajaran, saya akan terus terang pada mereka bahwa mereka banyak berpatisipasi dan mereka membosankan. (namun, tetaplah tersenyum sehingga mereka tahu bahwa anda sedang menyindir secara halus.)
  • Saat Yang Tepat Untuk Membagikan Kertas Kerja

            Kadang-kadang sebelum siswa mengerjakan lembar kerja, ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan. Untuk itu, setelah kertas kerja dibagikan, jelaskan bahwa mereka dilarang melihatnya sebelum anda selesai memberi instruksi. Mungkin ini sama halnya dengan saat kita memberikan bingkisan cantik kepada anak kecil dan memintanya untuk tidak membuka bingkisan tersebut selama beberapa hari. Jangan mempercayainya!
            Jika siswa memerlukan penjelasan, biasakanlah agar mereka melihat setiap halaman bersama-sama dan dalam waktu yang bersamaan. Mungkin ada siswa yang mengatakan bahwa mereka tidak mendengar penjelasan anda, tapi tentu anda dan saya tahu apa sebabnya. Mereka mencuri start untuk membaca kertas kerja tersebut!
  • Anda Yang  Mengajar, Bukan Video

            Saat ini banyak video yang berisi materi pelajaran yang dilengkapi dengan intruksi. Kadang-kadang itu membuat kita tergoda untuk membiarkan video itu untuk menggantikan kita mengajar, namun bagaimana kitalah yang dibayar untuk mengajar. Seringkali kita lebih suka duduk manis dan membiarkan siswa melihat buku video dari pada menyuruhnya untuk membaca buku. Saya tidak mengatakan bahwa video tidak cocok. Kita tetap dapat memanfaatkan video dengan cara mengajak siwa untuk menonton film setelah kegiatan membaca buku. Kegiatan seperti itu akan membuat siswa merasa senang. Di sisi lain, dengan menggunakan video terlalu sering hanya menimbulkan masalah. Bukankah sudah terlalu banyak anak yang candu pada layar kaca sehingga terkadang saya takut mereka akan kehilangan kemampuan mengkonsep (memvisualisasikan sesuatu). Saya tidak sedang mengatakan video tidak cocok dikelas; saya hanya memperingatkan anda untuk membatasi penggunaannya. Pernah ada orang tua dan staf administrasi memprotes ketika di sekolah saya terdapat gejala video menggatikan guru yang mengajar menjadi sebuah kebiasaan. Akibatnya guru yang bersangkutan mendapat reputasi “pemalas”.
  • Siapa Yang Membubarkan Kelas?

            Disekolah yang terdiri atas kelas-kelas biasanya terdapat bel atau lonceng yang digunakan sebagai tanda bahwa jam pelajaran telah habis. Saya membiasakan murid-murid saya untuk berlatih mengontrol diri setiap bel berbunyi. Jika bel berbunyi saat saya masih menerangkan pelajaran, maka anak-anak akan kehilangan konsentrasi bahkan mereka akan langsung meninggalkan kelas dan membiarkan saya berbicara dengan kelas yang semakin kosong. Dengan demikian, pengalaman mengajarkan saya untuk menetapkan “sayalah yang membubarkan kelas, bukan bel.”
            Para siswa memang harus bersabar untuk tidak langsung meloncat girang dan keluar kelas ketika bel berbunyi, tapi ini adalah peraturan yang harus mereka hargai. Disamping itu, hal tersebut merupakan suatu bentuk latihan pengendalian diri yang efektif. Namun bagaimanapun, anda tetap harus memberikan mereka cukup waktu untuk berpindah ke kelas berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar