melatih siswa agar bertanggung jawab
murid-murid membutuhkan peraturan dalam kehidupan ini dan itulah bagian dari tugas kita untuk membantu mereka dengan cara memberi batasan-batasan. batasan membuat mereka merasa aman. saat menentukan batasan, sebenarnya anda sedang mengatakan pada mereka bahwa mereka tidak boleh mengambil resiko untuk masuk kedalam air terlalu dalam. murid-murid sering tampak tidak bertanggung jawab, jadi kita harus pelan-pelan memberitahu mereka bahwa setiap tindakan ada konsekuensinya. berikut ini adalah beberapa strategi untuk membantu mereka agar dapat memikul tanngung jawab dengan menetapkan batasan-batasan dengan konsekuensi yang jelas.
- membentuk perilaku dengan kebiasaan
- Buku catatan standar
saya menyuruh
semua siswa saya untuk membeli sebuah binder besar dengan tiga ring dan
melarang mereka membeli buku-buku tebal yang terdapat dua lubang sisinya dengan
ukuran tidak standar. Biasanya kertas yang kecil sulit untuk disusun
karena sering jatuh dibawah meja. Sementara itu modul dan kertas kerja yang dibagikan
guru kebanyakan ukuran standar 8,5 x 11 inci sehingga siswatidak bisa
menyimpannya diantara buku mereka karena tidak pas. Akhirnya mereka hanya
melipatnya kemudian tidak pernah dilihat lagi atau bahkan hilang.
- Latihan Singkat Sebelum Pelajaran Atau Pemanasan
Selama
berabad-abad para guru telah menerapkan latihan “kerjakan Sekarang” yaitu
latihan singkat yang harus langsung dikerjakan siswa setelah mereka masuk
kedalam kelas.latihan ini berguna untuk menciptakan suasana yang kondusif sejak
mereka masuk kelas. Sebaiknya latihan itu terdiri atas soal yang relatif mudah
dan hanya membutuhkan waktu beberapa
menit untuk mengerjakan. (untuk siswa yang lebih besar, latihan ini seperti ini
juga dapat dikatakan sebagai “pemanasan”.)
Salah
satu contoh dari kegiatan ini adalah menulis kata-kata mutiara dipapan tulis,
seperti “anda hanya boleh menundukkan pandangan terhadap seseorang pada saat
anda menolongnya.” Semua siswa harus menyalin tulisan itu dan menulis
artinya serta menjelaskan bagaimana kaitan dengan diri mereka. (untuk itu mereka
tidak harus menggunakan kertas baru setiap saat melainkan cukup menggunakan
kertas tugas terdahulu jika masih ada
sisa ruang kosong sehingga mereka hanya perlu membubuhkan tanggal yang baru).
Setelah mereka menyelesaikan tugas tersebut, bahaslah beberapa hasil pekerjaan
sisa bersama seluruh kelas selama beberapa menit. Hasilnya, dalam lima menit
tadi, seluruh siswa telah siap di tempat duduknya masing-masing, buku catatan
telah terbuka, dan pulpen pun siap digunakan. Cukup cerdas, bukan?
- Maksud Dari Tujuan
Saya
juga punya kebiasaan menuliskan setiap tujuan pembelajaran di papan tulis. Hal
ini berguna untuk memfokuskan siswa, maksud dari apa yang anda ajarkan. Biasanya
setelah murid-murid saya masuk kedalam kelas, secara otomatis mereka akan
melihat ke papan tulis untuk mendapati latihan pemanasan dan tujuan
pembelajaran yang mereka tulis dalam buku catatan mereka. Mereka sudah tahu apa
yang harus mereka lakukan hari itu dan itu semua merupakan rutinitas yang telah
di biasakan. Setelah itu merekaterbiasa mencari PR di papan tulis. Mereka
pernah protes kepada saya karena tidak menemukan tujuan pembelajaran dipapan
tulis!
- Mengakhiri Pelajaran
Berilah
sentuhan akhir kegiatan belajar mengajar anda dengan kegiatan penutup. Mungkin anda
dapat bertanya tentang apa yang paling mereka suka, apa yang mereka dapat dari
paelajaran tadi, apa yang tidak mereka suka, atau komentar lain berhubungan
dengan pelajaran saat itu dalam hal ini anda tidak perlu mengemasnya menjadi kuis
informal melainkan hanya sebagai kegiatan diskusi tentang apa yang diharapkan
dapat tercapai dari kegiatan belajar saat itu.
Saya
selalu mengatakan pada siswa-siwa tentang pendapat saya terhadap bagaimana
pelajaran tadi berlangsung akan
memonopoli pasar hanya karena bosan. Jika siswa tidak responsif dan tidak
memerhatikan pelajaran, saya akan terus terang pada mereka bahwa mereka banyak
berpatisipasi dan mereka membosankan. (namun, tetaplah tersenyum sehingga
mereka tahu bahwa anda sedang menyindir secara halus.)
- Saat Yang Tepat Untuk Membagikan Kertas Kerja
Kadang-kadang
sebelum siswa mengerjakan lembar kerja, ada beberapa hal yang perlu kita jelaskan. Untuk itu, setelah kertas kerja dibagikan, jelaskan bahwa mereka
dilarang melihatnya sebelum anda selesai memberi instruksi. Mungkin ini sama
halnya dengan saat kita memberikan bingkisan cantik kepada anak kecil dan
memintanya untuk tidak membuka bingkisan tersebut selama beberapa hari. Jangan
mempercayainya!
Jika
siswa memerlukan penjelasan, biasakanlah agar mereka melihat setiap halaman
bersama-sama dan dalam waktu yang bersamaan. Mungkin ada siswa yang mengatakan
bahwa mereka tidak mendengar penjelasan anda, tapi tentu anda dan saya tahu apa
sebabnya. Mereka mencuri start untuk membaca kertas kerja tersebut!
- Anda Yang Mengajar, Bukan Video
Saat
ini banyak video yang berisi materi pelajaran yang dilengkapi dengan intruksi.
Kadang-kadang itu membuat kita tergoda untuk membiarkan video itu untuk
menggantikan kita mengajar, namun bagaimana kitalah yang dibayar untuk
mengajar. Seringkali kita lebih suka duduk manis dan membiarkan siswa melihat
buku video dari pada menyuruhnya untuk membaca buku. Saya tidak mengatakan
bahwa video tidak cocok. Kita tetap dapat memanfaatkan video dengan cara
mengajak siwa untuk menonton film setelah kegiatan membaca buku. Kegiatan
seperti itu akan membuat siswa merasa senang. Di sisi lain, dengan menggunakan
video terlalu sering hanya menimbulkan masalah. Bukankah sudah terlalu banyak
anak yang candu pada layar kaca sehingga terkadang saya takut mereka akan
kehilangan kemampuan mengkonsep (memvisualisasikan sesuatu). Saya tidak sedang
mengatakan video tidak cocok dikelas; saya hanya memperingatkan anda untuk
membatasi penggunaannya. Pernah ada orang tua dan staf administrasi memprotes
ketika di sekolah saya terdapat gejala video menggatikan guru yang mengajar
menjadi sebuah kebiasaan. Akibatnya guru yang bersangkutan mendapat reputasi
“pemalas”.
- Siapa Yang Membubarkan Kelas?
Disekolah
yang terdiri atas kelas-kelas biasanya terdapat bel atau lonceng yang digunakan
sebagai tanda bahwa jam pelajaran telah habis. Saya membiasakan murid-murid
saya untuk berlatih mengontrol diri setiap bel berbunyi. Jika bel berbunyi saat
saya masih menerangkan pelajaran, maka anak-anak akan kehilangan konsentrasi
bahkan mereka akan langsung meninggalkan kelas dan membiarkan saya
berbicara dengan kelas yang semakin kosong. Dengan demikian, pengalaman
mengajarkan saya untuk menetapkan “sayalah yang membubarkan kelas, bukan bel.”
Para
siswa memang harus bersabar untuk tidak langsung meloncat girang dan keluar
kelas ketika bel berbunyi, tapi ini adalah peraturan yang harus mereka hargai.
Disamping itu, hal tersebut merupakan suatu bentuk latihan pengendalian diri
yang efektif. Namun bagaimanapun, anda tetap harus memberikan mereka cukup
waktu untuk berpindah ke kelas berikutnya.